Sabtu, 25 Juli 2009

Demam Berdarah Dengue dan Permasalahannya

Demam Berdarah Dengue dan Permasalahannya


Jumat, 27 Februari, 2004 oleh: Siswono
Demam Berdarah Dengue dan Permasalahannya
Gizi.net - DEMAM berdarah dengue (DBD) kembali melanda negara kita. Penyakit ini tiap tahun telah membawa banyak korban jiwa, bahkan jumlah kasus serta korban jiwa meningkat tiap tahunnya. Jumlah korban penderita penyakit demam berdarah sepanjang tahun 1999 sebanyak 21.134 orang, tahun 2000 sebanyak 33.443 orang, tahun 2001 45.904 orang, tahun 2002 40.377 orang, dan tahun 2003 sebanyak 50.131 orang (Media Indonesia, 17/2/2004). Sedangkan pada 2004, sampai saat ini, telah jatuh korban tidak kurang dari 247 orang meninggal (Kompas, 25/2/2004).

Karena peningkatan jumlah kasus serta angka kematian, ada yang mensinyalir kalau virus dengue yang mewabah sekarang adalah virus baru. Kemungkinan ini tidak tertutup karena dengue adalah virus RNA (virus yang menggunakan RNA sebagai genomnya) yang bermutasi jauh lebih cepat dibandingan dengan virus DNA. Begitu juga kemungkinan rekombinasi (penyilangan gen) juga tidak bisa dikesampingkan. Beberapa penelitian juga telah membuktikan terjadinya rekombinasi pada virus dengue. Kedua mutasi dan rekombinasi ini akan melahirkan virus 'berwajah' baru, dengan sifat dan karakter yang baru.

Walaupun ada kemungkinan mutasi dan rekombinasi sehingga munculnya virus baru, kepastian apakah virus tersebut memang virus baru atau tidak, harus dikonfirmasikan secara ilmiah dengan menganalisis gen dari virus tersebut.

Dengue dan permasalahannya

Sampai saat ini belum ditemukan obat atau vaksin untuk penanggulangan DBD ini. Beberapa usaha yang berhubungan dengan pengembangan obat telah dan tengah dilakukan. Dalam satu penelitian dikatakan bahwa interferon, ribavirin, 6-azauridine, and glycyrrhizin menghambat perkembangbiakan flavivirus termasuk virus dengue secara in vitro (Crance et al, 2003), tetapi belum dibuktikan secara in vivo. Begitu juga dengan usaha pengembangan antivirus melalui penemuan inhibitor enzim yang diperlukan untuk perkembangbiakan virus seperti protease, helikase, RNA polimerase, dan lain-lain. Semua percobaan baru pada tahap pengujian aktivitas secara in vitro, yang masih jauh dari pengembangan menjadi obat yang bisa digunakan untuk pasien.

Demikian juga halnya dengan pengembangan vaksin. Ada beberapa kesulitan untuk pengembangan vaksin Dengue ini. Di antaranya adalah kompleksnya virus dengue ini. Virus dengue terdiri dari 4 serotipe (DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4), sehingga vaksin yang dikembangkan harus mengandung antigen dari ke-4 jenis serotipe ini. Artinya, agar bisa memproteksi tubuh dari serangan virus dengue, vaksin yang dipakai harus bisa mengindus antibodi terhadap ke-4 jenis serotipe ini di dalam tubuh.

Kesulitan yang kedua adalah infeksi virus dengue ini tidak mengindus antibodi yang bisa menahan tubuh dari serangan. Pada kebanyakan virus, infeksi akan mengindus antibodi yang bisa menahan tubuh terhadap serangan virus berikutnya. Tapi hal ini berbeda dengan virus dengue. Infeksi pertama (primary infection) malah mempermudah tubuh untuk mendapat serangan berikutnya (secondary infection). Begitu juga gejala yang diakibatkannya. Serangan berikutnya menimbulkan gejala yang lebih berat dan fatal. Jika pada serangan pertama hanya menyebabkan panas (dengue fever/DF), serangan berikutnya bisa menyebabkan panas beserta pendarahan (dengue hemmorhagic fever/DHF) atau bahkan disertai shock (dengue shock syndrome/DSS).

Karena itu, pengembangan vaksin harus disertai dengan pertimbangan kemungkinan ini. Artinya, kita harus menemukan kondisi yang optimal agar pemberian vaksin tidak membuat tubuh lebih sensitif terhadap serangan virus dengue. Di antara kondisi yang harus dipertimbangkan bisa berupa jumlah dosis, jumlah vaksin itu sendiri, komposisi masing serotipe, dan lain-lain.

Walaupun demikian, karena adanya urgensi pengembangan vaksin ini, beberapa institusi tanpa putus asa tetap melakukan usaha pengembangan vaksin dengue ini, di antaranya adalah Pusat Penyakit Infeksi FK Unair Surabaya, Mahidol University Bangkok, dan Walter Reed Army Institute Amerika SerikatS. Namun, kandidat vaksin masih pada tahap clinical trial.

Perlunya 3-M

Sudah tidak diragukan lagi bahwa penyebaran wabah dengue disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti, terutama nyamuk betina. Nyamuk ini sangat pintar menyembunyikan suaranya dengan membuat gerakan sayap yang halus sehingga nyaris tak terdengar. Nyamuk betina ini menghisap darah manusia sebagai bahan untuk mematangkan telurnya. Hingga kini belum diketahui mengapa hanya darah manusia yang dikonsumsi nyamuk ini, tidak darah makhluk hidup lainnya.

Bila nyamuk jenis lain bertelur dan menetaskannya pada sarangnya, Aedes aegypti betina melakukannya di atas permukaan air. Karena dengan demikianlah, telur-telurnya itu berpotensi menetas dan hidup. Telur menjadi larva yang kemudian mencari makan dengan memangsa bakteri yang ada di air tersebut. Karena itu tidak heran bila nyamuk penyebab demam berdarah ini berkembang biak pada genangan air, terutama yang kotor.

Karena itu, penyebaran wabah dengue dipengaruhi oleh ada tidaknya nyamuk Aedes aegypti yang dipengaruhi lagi oleh ada tidaknya genangan air yang kotor. Karena itu, pengontrolan dengue bisa dilakukan dengan pengontrolan nyamuk Aedes aegypti. Pengontrolan nyamuk bisa dilakukan dengan berbagai cara. Pertama adalah membunuh nyamuk, baik dengan pestisida maupun dengan ovitrap, yakni dengan bak perangkap yang ditutup kasa. Penggunaan pestisida, selain memerlukan biaya dan berbahaya pada manusia, juga akan memicu munculnya nyamuk yang resistan, sehingga cara ini bukanlah cara yang efektif untuk jangka panjang. Untuk jangka pendek, cara ini masih bisa digunakan.

Cara kedua adalah membuat nyamuk transgenik supaya tidak terinfeksi oleh virus dengue. Jika nyamuk tidak bisa diinfeksi oleh virus dengue, otomatis manusia tidak akan pernah terinfeksi oleh virus dengue. Cara ini digunakan oleh beberapa peneliti untuk mengatasi masalah malaria. Namun, pengembangan cara ini masih memerlukan puluhan tahun untuk bisa diaplikasikan.

Cara yang ketiga adalah pemberantasan sarang nyamuk yang efektif dan efisien melalui kegiatan 3-M, yaitu menguras, menutup/menabur abate di tempat penampungan air, dan mengubur/menyingkirkan barang-barang bekas yang memungkinkan dijadikan tempat perindukan dan perkembangbiakan jentik nyamuk Aedes aegypti. Cara inilah yang efektif yang bisa kita lakukan dengan kondisi kita saat ini.

Penyuluhan

Walaupun 3-M adalah cara yang mudah dan bisa kita lakukan karena tidak memerlukan biaya, pada kenyataannya cara ini tidak terlaksana dengan baik. Ini sangat erat hubungannya dengan kebiasaan hidup bersih dan kesadaran masyarakat terhadap bahaya demam berdarah dengue ini. Kurangnya kesadaran masyarakat mungkin disebabkan beberapa hal, di antaranya adalah faktor ekonomi. Susahnya masyarakat untuk memenuhi kebutuhan ekonomi membuat masyarakat hanya memikirkan 'makan' tanpa peduli terhadap kebersihan dan sanitasi. Selain itu, budanya hidup bersih, sedikit banyaknya juga berpengaruh terhadap pelaksanaan 3-M ini.

Lebih dari itu, penyuluhan dari pemerintah sangat memengaruhi pelaksanaan 3-M ini. Pelaksanaan 3-M sangat dipengaruhi oleh kesadaran masyarakat akan bahaya deman berdarah dengue itu sendiri. Artinya, tidak terlaksananya 3-M juga berarti bahwa penyuluhan pemerintah kepada masyarakat tentang demam berdarah dengue ini masih kurang. Karena itu, pemerintah harus lebih aktif lagi memberikan pengertian dan penyuluhan kepada masyarakat dengan menggunakan berbagai media seperti surat kabar dan televisi. Jika tidak, kasus dengue tidak akan pernah teratasi, bahkan akan bertambah parah.***

Dr Andi Utama; Peneliti Puslit Bioteknologi-LIPI; Postdoctoral Fellow of Japan Society for Promotion of Science, National Institute of Infectious Diseases

Sumber: http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?id=2004022601454053

0 komentar: